Biennale Jogja XIV tahun ini akan melanjutkan seri Equator sebelumnya. Setelah bekerja sama dengan India pada Equator #1, negara-negara di kawasan Arab pada Equator #2, dan Nigeria pada Equator #3, maka pada Equator #4 kali ini Biennale Jogja XIV akan bekerja sama dengan Brasil. Brasil dipilih sebagai mitra kerja kali ini karena memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia. Kesamaan pertama, Brasil dan Indonesia sama-sama tercatat dalam kelompok negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia. Kesamaan kedua, Brasil dan Indonesia sama-sama berada pada posisi teratas dunia dalam tingkat keragaman hayati.

 

Dari dua kesamaan di atas, Biennale Jogja kali ini akan mengetengahkan dua pokok bahasan:

 

1. Populasi yang berlebih dan bayang-bayang kecemasan

Sebagai negara-negara dengan tingkat populasi yang besar, Brasil dan Indonesia adalah pasar kehidupan yang dilematis, karena mimpi indah yang ditawarkan sering kali menjadi kenyataan yang mencemaskan. Persoalannya adalah, hasrat hidup yang besar tidak sebanding dengan ketersediaan kebutuhan hidup yang dikehendaki. Kehendak untuk mendapatkan sesuatu yang terbatas itu justru menciptakan beragam persoalan yang rumit.

 

Prediksi statistik memperhitungkan bahwa pada tahun 2050 penduduk Indonesia akan berjumlah 360 juta penduduk (saat ini sekitar 250 juta penduduk). Bila konsentrasi kepadatan penduduk masih tetap berada di Jawa pada tahun 2050 nanti, apakah dapat dibayangkan bagaimana kepadatan penduduk di Kota Yogyakarta di masa depan? Jika lereng-lereng Merapi terus-menerus dipadati penduduk, bagaimana cara mengevakuasi mereka dengan cepat apabila suatu saat kondisi Gunung Merapi kritis? Bagaimana efek dari laju kepadatan penduduk tersebut bagi alam dan lingkungan? Apabila lahan subur dikonversi menjadi pemukiman, maka ekosistem yang tadinya menyediakan tanda-tanda akan adanya perubahan alam menjadi hilang.

Persoalan yang kurang lebih serupa juga ditemukan di Brasil. Kota-kota di Brasil merupakan permukiman padat yang dipisahkan oleh rimbun hutan belantara yang hijau. Di kota-kota tersebut kepadatan penduduk sangat tinggi, namun pemenuhan kebutuhan pangan dan energi mereka sangat bergantung pada para petani yang membuka lahan di sekitar hutan, serta sumber energi yang terkandung dalam aliran sungai besar maupun pertambangan energi yang terletak jauh di dalam hutan.

Laju pertambahan penduduk merupakan salah satu persoalan yang menghantui masa depan peradaban manusia. Manusia harus memenuhi kebutuhan dasarnya (pangan dan energi) dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada; sementara sumber daya alam itu terbatas dan bisa habis sewaktu-waktu. Bagaimana kita dapat menjaga kesinambungan antara sumber pangan dan energi dengan pertambahan jumlah penduduk?

Dalam situasi serbacemas ini, ada hal yang selalu jadi isu sensitif untuk dibicarakan karena menambah cemas orang-orang. Sebut saja kekuasaan yang korup dan harapan palsu tentang kemakmuran, keadilan yang berpihak dan pemaksaan kehendak, kemiskinan dan tindak kekerasan, serta kerusakan lingkungan dan penyimpangan perilaku.

 

2. Mengelola keragaman dan harapan untuk masa depan

Sebagai negara-negara yang berada pada posisi teratas dalam tingkat keragaman hayati, Brasil dan Indonesia adalah toko obat raksasa yang belum dikelola dengan baik. Persoalannya adalah informasi yang terbatas. Pemandu terbaik untuk menemukan obat mujarab adalah satwa liar yang justru tidak mampu bicara. Keragaman satwa liar yang menyusut, dan keberadaannya yang makin tersingkirkan, membuat obat mujarab semakin sulit ditemukan.

 

Kasus Brasil barangkali agak berbeda dengan Indonesia; Brasil berhasil mengembangkan teknologi pertanian untuk memaksimalkan produksi dari lahan hijau mereka. Sementara teknologi pertanian Indonesia tampaknya belum pernah diproyeksikan untuk memaksimalkan potensi dari lahan-lahan yang subur. Potensi terbesar Indonesia justru boleh dikatakan berada di lautan lepas yang baru-baru ini mulai dicoba untuk dimaksimalkan potensinya.

 

Ingat kisah erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam? Letusan kali itu adalah momen yang menutup usia Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, setelah menolak dievakuasi dari rumahnya di Dusun Kinahrejo. Empat tahun sebelumnya, Mbah Maridjan juga menolak dibawa turun dan entah bagaimana berhasil selamat meskipun diterjang awan panas. Bagi sebagian orang, Mbah Maridjan tampak melakukan hal bodoh dengan tidak meninggalkan rumah meski peringatan sudah diberikan. Namun, bagi sebagian yang lain tindakan itu merupakan bentuk ketulusan dan kesungguhan dalam mengemban tanggung jawab hingga akhir hayatnya.

Mbah Maridjan tidak dilatih dalam tradisi ilmu pengetahuan modern; ia tidak tahu cara membaca perangkat teknologi vulkanologi modern lainnya. Sebaliknya, ia terlatih dalam melihat dan membaca tanda-tanda alam yang ada di sekitarnya. Ia tidak membahasakan prediksi atau pembacaannya lewat bahasa ilmiah, melainkan lewat dongeng atau tradisi lisan. Dibanding mekanisme prediksi macam ini, pilihan-pilihan yang diambil berdasarkan riset ilmu pengetahuan modern barangkali dianggap mengandung risiko paling kecil karena telah menggunakan ukuran-ukuran pasti. Akan tetapi, pada tradisi ilmu pengetahuan non-modern, seperti yang dijalankan oleh Mbah Maridjan, pilihan-pilihannya  yang mengikuti pertimbangan intuitif justru dapat menjadi pilihan tak terduga dan mengejutkan.

 

Mengacu pada sejumlah kasus di atas, perlu disadari bahwa kesadaran untuk mengelola keragaman hayati adalah harapan untuk masa depan. Belajar dari perilaku satwa liar adalah cara terbaik untuk menemukan obat yang mujarab. Mencermati tanda-tanda yang disiratkan alam adalah jalan untuk membaca perubahan dan mengantisipasi penyesuaian. Keberanian berpikir liar dan mengandalkan naluri hidup adalah cara paling alami untuk menemukan solusi dari beragam persoalan yang kita hadapi.

 

***

 

Biennale Jogja kali ini tidak hanya mengundang perupa-perupa yang memiliki kecakapan untuk membicarakan isu-isu yang sensitif, tapi juga perupa-perupa yang berani berpikir liar dan mengandalkan naluri untuk menciptakan karya-karya yang bermutu.