<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>biennalejogja.org</title>
	<atom:link href="http://biennalejogja.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://biennalejogja.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Feb 2013 03:35:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Katulistiwa</title>
		<link>http://biennalejogja.org/wawancara-dengan-katulistiwa-2/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/wawancara-dengan-katulistiwa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 07:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[event biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Dimulai sejak Biennale Jogja XI 2011, Biennale Jogja akan bekerja di sekitar katulistiwa 23.27 derajad Lintang Utara dan Lintang Selatan. Biennale Jogja mencoba untuk memandang ke depan, mengembangkan perspektif baru yang sekaligus juga membuka diri untuk melakukan konfrontasi  atas ‘kemapanan’ ataupun konvensi atas event sejenis. Wacana seni kontemporer sangatlah dinamis, namun dikotomi sentral/pusat dan periferi/pinggiran [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dimulai sejak Biennale Jogja XI 2011, Biennale Jogja akan bekerja di sekitar katulistiwa 23.27 derajad Lintang Utara dan Lintang Selatan. Biennale Jogja mencoba untuk<br />
memandang ke depan, mengembangkan perspektif baru yang sekaligus juga membuka diri untuk melakukan konfrontasi  atas ‘kemapanan’ ataupun konvensi atas event sejenis.</p>
<p>Wacana seni kontemporer sangatlah dinamis, namun dikotomi sentral/pusat dan periferi/pinggiran agaknya masih sangat nyata. Adakebutuhan untuk mencari peluang baru dalam memberikan makna lebih atas event ini. Diangankan untuk mereka suatu common platform yang sekaligus mampu memberikan  provokasi atas munculnya berbagai keragaman dalam perspektif untuk menghadirkan alternatif-alternatif baru atas wacana yang hegemonik.</p>
<p>Pilahan geo-politik utara selatan, pilahan atas tingkat kemajuan kesejahteraan ataupun kedekatan teritori dalam stereotype etnisitas telah memberi kontribusi tertentu dalam perkembangan budaya kontemporer ini. Kami mengangankan suatu yang sedikit berbeda, tentunya dengan pengharapan akan menjadi pemicu dan pemacu kemunculan relasi dan interelasi alternative atas pengoperasian kesenian dalam kehidupan.</p>
<p>Katulistiwa diangankan untuk menjadi semacam bingkai yang mewadahi kesamaan namun sekaligus juga menjadi garis menerus yang menembus merangkai dan bersaksi atas pengejawantahan berbagai keragaman.</p>
<p>Katulistiwa akan menjadi common platform untuk ‘membaca kembali‘ dunia. Menegasi keberadaan pusat-pusat dengan menawarkan area kerja wilayah sabuk katulistiwa dengan sudut pandang yang  tak berpusat, nir-pusat.</p>
<p>Katulistiwa dalam perpektif geologis, geografis, ekologis, etnografis, juga historis, serta politis, dll, merupakan wilayah kerja yang luar biasa menarik untuk diekplorasi . Keberagaman yang merupakan cerminan kekayaan dalam karakteristik bersama kelimpahan terpaan surya sebagai sumber daya hidup yang tidak berjeda. Kesamaan karakteristik alam ini dibingkai dalam batas garis balik utara (tropic 23’27’’) dan garis balik selatan (tropic 23’27’’)</p>
<p>Katulistiwa, zona bumi yang relative memiliki kecepatan rotasi lebih tinggi, bentangan wilayah sepanjang 40.000 km, mozaik pulau benua dalam anyaman samudera, akan merupakan ‘arena’ pencarian pengkajian, pertemuan, perjumpaan, perbenturan, perbaikan, pembaruan, kemanusiaan manusia.</p>
<p>Dalam setiap penyelenggaraanya Biennale Jogja akan bekerja dan bertatap muka dengan 1 negara di daerah katulistiwa, berjalan ke arah Barat dan diawali dengan menjumpai India pada Biennale Jogja XI tahun 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/wawancara-dengan-katulistiwa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BIENNALE JOGJA DARI MASA KE MASA</title>
		<link>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-dari-masa-ke-masa/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-dari-masa-ke-masa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[yayasan biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Mengumpulkan dokumen dan dokumentasi Biennale Jogja* Kehidupan rupanya terlalu besar untuk hanya dijadikan obyek penelitian, dan terlalu agung untuk tidak dirayakan. (Ignas Kleden, 1988) Tak bisa dipungkiri, Biennale Jogja (BJ) merupakan perhelatan besar seni rupa rutin yang paling konsisten di Indonesia. Tandingannya hanyalah Biennale Jakarta (yang walau lebih tua dari pada BJ namun tidak serutin [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Mengumpulkan dokumen dan dokumentasi Biennale Jogja*</p>
<p><em>Kehidupan rupanya terlalu besar untuk hanya dijadikan obyek penelitian, dan terlalu agung untuk tidak dirayakan.<br />
(Ignas Kleden, 1988)</em></p>
<p>Tak bisa dipungkiri, Biennale Jogja (BJ) merupakan perhelatan besar seni rupa rutin yang paling konsisten di Indonesia. Tandingannya hanyalah Biennale Jakarta (yang walau lebih<br />
tua dari pada BJ namun tidak serutin BJ penyelenggaraannya). Beberapa biennale lain, seperti di Jawa Timur dan Bali, belum setua kedua biennale yang saya sebut sebelumnya dan juga tidak diselenggarakan serutin keduanya. Seperti Biennale Jakarta, BJ merupakan produk pemerintah kota.</p>
<p>Dalam 21 tahun eksistensinya, BJ berganti wajah sebanyak tiga kali. Pada mulanya adalah Pameran Seni Lukis Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 1983, 1985, 1986, dan 1987. Kemudian TBY, yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Rob M. Mujiono, mengubah penyelenggaraan pameran besar tersebut menjadi Biennale Seni Lukis Yogyakarta (BSLY) 1988, 1990, dan 1992. Dalam pengantar katalog BSLY 1988, Mujiono menyebutkan bahwa tujuan penyelenggaraan biennale ini adalah untuk menyediakan sarana pameran karya-karya terbaik selama dua tahun terakhir, supaya pada waktunya dapat sekaligus menjadi barometer aktivitas dan tingkat kreativitas seniman juga apresiasi publik terhadap seni lukis Yogyakarta. Untuk pemilihan karya-karya terbaik ini, BSLY memiliki dewan juri yang bukan hanya memilih karya yang ikut dalam pameran, tetapi juga sejumlah karya yang diberikan penghargaan (menjadi pemenang); demikianlah seterusnya sampai BSLY 1992.</p>
<p>Sehari sebelum BSLY 1992 dihelat, perhatian publik dan media direbut oleh pembukaan Binal Experimental Arts 1992. (Jogja memang kota plesetan: Dalam logat dan bahasa Indonesia, “biennale” dibaca: “bi-nal” dan “binal” sebagai sebuah kata juga berarti “nakal”.) <em>Binal</em> ini diadakan oleh sekian banyak muda-mudi yang pada saat itu memprotes syarat-syarat menjadi peserta BSLY. (Dua syarat yang paling menjadi kontroversi pada saat itu adalah “Peserta adalah pelukis profesional berumur minimal genap 35 th. pada 1 Juli 1992 […] Peserta menyerahkan karya lukisan (dua dimensional) dan bukan media batik” <em>Sumber: Proposal Binal Experimental Arts 1992</em>.) Seperti namanya, <em>Binal</em> menyajikan berbagai bentuk seni lain selain seni lukis; mulai dari karya-karya instalasi di ruang publik (di lembah, bundaran, dan boulevard UGM), pertunjukan di ruang-ruang publik (Stasiun Tugu, Taman Sari, dan Alun-alun Selatan), pameran karya di studio-studio seniman (Eddie Harra dan Regina Bimadona), pameran instalasi di Senisono Galeri, sampai dengan diskusi yang terbuka untuk umum di Gedung Tempo. Selama sembilan hari (27 Juli – 4 Agustus 1992), Yogkakarta dipenuhi dengan maraknya kegiatan seni yang melibatkan 300-an seniman. BSLY 1992 yang dimulai dan berakhir sehari setelahnya kehilangan pamor. Nyaris tidak ada media yang meliput BSLY kecuali membandingkannya dengan <em>Binal</em>.</p>
<p>Dua tahun kemudian, nama BSLY tak lagi terdengar. Sebagai gantinya, TBY menggelar Pameran Rupa-rupa Seni Rupa yang berisi: Pameran Nasional Seni Patung Outdoor, Pameran Biennale IV Seni Lukis, Pameran Seni Rupa Kontemporer (Instalasi), dan Sarasehan Seni Rupa. Pameran Rupa-rupa Seni Rupa ini merupakan cikal bakal lahirnya Biennale Seni Rupa Yogyakarta (BSRY) yang tidak lagi memiliki dewan juri seperti pada BSLY. Sebagai gantinya, Pameran Rupa-rupa Seni Rupa pada 1994 dan BSRY 1997 dan 1999 memiliki sejumlah narasumber dan beberapa penulis yang terlibat. Tim narasumber (yang awalnya, pada 1994, disebut tim kurasi) inilah yang mengurasi –dalam logika kurasi yang kita kenal sekarang<a title="" href="file:///D:/GED%20web/web%20yayasan/BJ%20dari%20masa%20ke%20masa.doc#_edn1">[i]</a>– perhelatan ini.</p>
<p>Tidak ada BSRY pada 2001. Kebijakan Otonomi Daerah membuat sokongan dana dari pusat untuk penyelenggaraan BSRY terputus satu periode. Pada 2003, Biennale kembali dihelat dengan kemasan baru. Sosok kurator (tunggal) hadir membungkus Biennale dengan sebuah tema. Perhelatan inipun resmi disebut BJ. Bukan hanya sosok kurator yang dihadirkan dalam perhelatan BJ ini, tetapi juga elemen swasta juga hadir sebagai salah satu sponsor penyelenggara kegiatan ini. Alhasil, suksesi BJ semakin tergantung pada kurator, tim manajemen, dan sponsornya. BJ VII 2003 yang dihadirkan kurator Hendro Wiyanto dengan tema <em>Countrybution </em>adalah cikal bakal kemapanan BJ.</p>
<p>Benar saja, pada 2005, BJ VIII 2005 dengan tema <em>Di sini dan Kini</em> dan tiga orang kuratornya, M. Dwi Marianto, Eko Prawoto, dan Mikke Susanto, menggunakan 13 lokasi dalam perhelatannya. Disponsori oleh Gudang Garam Internasional, BJ VIII 2005 ini mengembalikan paham “menang – kalah” (yang satu lebih baik dari yang lainnya) dengan penghargaan sebagai penandanya. Demikianlah pola penyelenggaraan besar-besaran, festivitas, dan pemberian sebentuk penghargaan terus dilakukan (dan bahkan makin membesar) pada BJ selanjut-lanjutnya. Walau hanya dihelat di tiga lokasi, keempat kurator BJ IX 2007 <em>Neo-nation</em>, Suwarno Wisetrotomo, Kuss Indarto, Eko Prawoto, dan Sudjud Dartanto, menyertakan 167 seniman dan 4 kelompok; sementara BJ X 2009<em> Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa</em> bahkan diselenggarakan oleh empat kurator, Wahyudin, Eko Prawoto, Samuel Indratma, dan Hermanu bersama dewan kurator Agus Burhan, Ong Hari Wahyu, dan Sindhunata. Tak heran tercatat sebanyak 323 seniman (termasuk 82 kelompok) yang turut serta dalam perhelatan BJ terakhir ini.</p>
<p>Sesuatu yang menarik terjadi pada perhelatan BJ X 2009 ini. Sejumlah pekerja seni yang sudah sekian tahun malang-melintang dalam dunia seni rupa mengajukan pelembagaan (mandiri) BJ. (<strong><em>Grace Samboh</em></strong><strong><em>)</em></strong></p>
<p><em>* Tulisan ini merupakan catatan singkat dari penemuan-penemuan saya dalam proses mengarsip ke-10 perhelatan Biennale Jogja. Pengumpulan dokumen dan dokumentasi, kemudian pengarsipan Biennale Jogja dikerjakan bersama (dan untuk) Indonesia Visual Art Archive.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-dari-masa-ke-masa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BIENNALE JOGJA 10 tahun ke depan</title>
		<link>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-10-tahun-ke-depan/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-10-tahun-ke-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[yayasan biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Wawancara dengan Katulistiwa Dimulai sejak Biennale Jogja XI 2011, Biennale Jogja akan bekerja di sekitar katulistiwa 23.27 derajad Lintang Utara dan Lintang Selatan. Biennale Jogja mencoba untuk memandang ke depan, mengembangkan perspektif baru yang sekaligus juga membuka diri untuk melakukan konfrontasi  atas ‘kemapanan’ ataupun konvensi atas event sejenis. Wacana seni kontemporer sangatlah dinamis, namun dikotomi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wawancara dengan Katulistiwa</strong></p>
<p>Dimulai sejak Biennale Jogja XI 2011, Biennale Jogja akan bekerja di sekitar katulistiwa 23.27 derajad Lintang Utara dan Lintang Selatan. Biennale Jogja mencoba untuk<br />
memandang ke depan, mengembangkan perspektif baru yang sekaligus juga membuka diri untuk melakukan konfrontasi  atas ‘kemapanan’ ataupun konvensi atas event sejenis.</p>
<p>Wacana seni kontemporer sangatlah dinamis, namun dikotomi sentral/pusat dan periferi/pinggiran agaknya masih sangat nyata. Adakebutuhan untuk mencari peluang baru dalam memberikan makna lebih atas event ini. Diangankan untuk mereka suatu <em>common platform</em> yang sekaligus mampu memberikan  provokasi atas munculnya berbagai keragaman dalam perspektif untuk menghadirkan alternatif-alternatif baru atas wacana yang hegemonik.</p>
<p>Pilahan geo-politik utara selatan, pilahan atas tingkat kemajuan kesejahteraan ataupun kedekatan teritori dalam <em>stereotype</em> etnisitas telah memberi kontribusi tertentu dalam perkembangan budaya kontemporer ini. Kami mengangankan suatu yang sedikit berbeda, tentunya dengan pengharapan akan menjadi pemicu dan pemacu kemunculan relasi dan interelasi alternative atas pengoperasian kesenian dalam kehidupan.</p>
<p>Katulistiwa diangankan untuk menjadi semacam bingkai yang mewadahi kesamaan namun sekaligus juga menjadi garis menerus yang menembus merangkai dan bersaksi atas pengejawantahan berbagai keragaman.</p>
<p>Katulistiwa akan menjadi <em>common platform </em>untuk ‘membaca kembali‘ dunia. Menegasi keberadaan pusat-pusat dengan menawarkan area kerja wilayah sabuk katulistiwa dengan sudut pandang yang  tak berpusat, nir-pusat.</p>
<p>Katulistiwa dalam perpektif geologis, geografis, ekologis, etnografis, juga historis, serta politis, dll, merupakan wilayah kerja yang luar biasa menarik untuk diekplorasi . Keberagaman yang merupakan cerminan kekayaan dalam karakteristik bersama kelimpahan terpaan surya sebagai sumber daya hidup yang tidak berjeda. Kesamaan karakteristik alam ini dibingkai dalam batas garis balik utara (tropic 23’27’’) dan garis balik selatan (tropic 23’27’’)</p>
<p>Katulistiwa, zona bumi yang relative memiliki kecepatan rotasi lebih tinggi, bentangan wilayah sepanjang 40.000 km, mozaik pulau benua dalam anyaman samudera, akan merupakan ‘arena’ pencarian pengkajian, pertemuan, perjumpaan, perbenturan, perbaikan, pembaruan, kemanusiaan manusia.</p>
<p>Dalam setiap penyelenggaraanya Biennale Jogja akan bekerja dan bertatap muka dengan 1 negara di daerah katulistiwa, berjalan ke arah Barat dan diawali dengan menjumpai India pada Biennale Jogja XI tahun 2011.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/biennale-jogja-10-tahun-ke-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TENTANG YAYASAN BIENNALE YOGYAKARTA</title>
		<link>http://biennalejogja.org/tentang-yayasan-biennale-yogyakarta/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/tentang-yayasan-biennale-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[yayasan biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Misi Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) adalah: Menginisiasi dan memfasilitasi berbagai upaya mendapatkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, penyempurnaan blue print kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. Berdiri pada 23 Agustus 2010. Seni rupa sebagai salah satu sektor kreativitas budaya kian tumbuh dengan pesat di Yogyakarta dan menempati posisi sentral [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Misi Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) adalah:</p>
<p>Menginisiasi dan memfasilitasi berbagai upaya mendapatkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, penyempurnaan <em>blue print </em>kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. Berdiri pada 23 Agustus 2010. Seni rupa sebagai salah satu sektor kreativitas budaya kian tumbuh dengan pesat di Yogyakarta dan menempati posisi sentral dan sangat penting dalam kehidupan seni rupa Indonesia. Yogyakarta memiliki peran yang sangat dominan dalam sejarah seni rupa Indonesia. Di wilayah ini terdapat akademi seni paling berpengaruh, tempat tinggal para seniman terkemuka dengan peristiwa seni yang tak pernah surut.</p>
<p>Pengembangan dan pengelolaan kekayaan budaya adalah upaya untuk membangun dan mengoptimalkan seluruh potensi kreativitas dari manusia-manusia pencipta karya budaya maupun pemanfaatan seluruh aset budaya yang telah ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p><strong> </strong></p>
<table width="598" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="39"><strong> </strong></td>
<td valign="top" width="560"><strong>PEMBINA</strong><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">1.</td>
<td valign="top" width="560">Nindityo Adipurnomo (<em>ketua</em>)<em>Seniman rupa, Pengawas yayasan IVAA, Direktur Cemeti Art House</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">2.</td>
<td valign="top" width="560">Oei Hong Djien<em>Pengusaha, kolektor seni rupa</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">3.</td>
<td valign="top" width="560">Butet Kartaredjasa<em>Tokoh masyarakat, Ketua Yayasan Bagong Kussudiardjo</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">4.</td>
<td valign="top" width="560">Mella Jaarsma<em>Seniman rupa, Pembina yayasan IVAA, Direktur Cemeti Art House</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">5.</td>
<td valign="top" width="560">Eko Prawoto<em>Arsitek, Pemerhati masalah perkotaan, dosen Universitas Kristen Duta Wacana, anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">6.</td>
<td valign="top" width="560">Christine Cocca<em>Praktisi jejaring internasional</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">7.</td>
<td valign="top" width="560">Tom Tandio<em>Pengusaha, kolektor seni rupa</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39"></td>
<td valign="top" width="560"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39"><strong> </strong></td>
<td valign="top" width="560"><strong>PENGAWAS</strong><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">1.</td>
<td valign="top" width="560">Suwarno Wisetrotomo (ketua)<em> </em><em>Kurator seni rupa, dosen Institut Seni Indonesia, anggota Dewan Kebudayaan Yogyakarta</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">2.</td>
<td valign="top" width="560">Anggi Minarni<em>Penggiat masyarakat Heritage Yogyakarta, Direktur Karta Pustaka</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">3.</td>
<td valign="top" width="560">Ong Hari Wahyu<em>Seniman Rupa, Aktivis seni komunitas</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39"></td>
<td valign="top" width="560"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39"><strong> </strong></td>
<td valign="top" width="560"><strong>PENGURUS HARIAN</strong><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">1.</td>
<td valign="top" width="560">Yustina Neni (ketua)<em>Praktisi Manajemen Seni, Direktur Kedai Kebun Forum, Pembina Yayasan IVAA</em></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="39">2.</td>
<td valign="top" width="560">Dewi Yuliastuti (sekretaris)<em><em>Praktisi Manajemen Seni</em></em>&nbsp;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/tentang-yayasan-biennale-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota itu milik siapa? Kita mengisinya kita memilikinya.</title>
		<link>http://biennalejogja.org/kota-itu-milik-siapa-kita-mengisinya-kita-memilikinya/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/kota-itu-milik-siapa-kita-mengisinya-kita-memilikinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:47:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[event biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Program Biennale Jogja XI tidak melulu memamerkan produk seniman berupa karya seni dua atau tiga dimensional, tetapi juga berupa aktivitas yang melibatkan masyarakat. Presentasi karya seni yang berupa aktivitas, berlokasi di luar ruang utama pameran BJ XI, dan tersebar di berbagai lokasi di Yogyakarta. Penonton bisa menikmati petikan aktivitas-aktivitas itu di Taman Budaya Yogyakarta. Presentasi ini meliputi petikan peristiwa yang diinisiasi oleh peserta [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Program Biennale Jogja XI tidak melulu memamerkan produk seniman berupa karya seni dua atau tiga dimensional, tetapi juga berupa aktivitas yang melibatkan masyarakat. Presentasi karya seni yang berupa aktivitas, berlokasi di luar ruang utama pameran BJ XI, dan tersebar di berbagai lokasi di Yogyakarta. Penonton bisa menikmati petikan aktivitas-aktivitas itu di Taman Budaya Yogyakarta. Presentasi ini meliputi petikan peristiwa yang diinisiasi oleh peserta program Parallel Events, petikan peristiwa Festival Equator, pameran arsip oleh Indonesian Visual Art Archive, pameran kerja kolaborasi sukarelawan BJ XI dengan Persatuan Pelajar Indonesia di India, tentang budaya popular di India. Informasi wisata alternatif berkaitan dengan tema BJ XI dan isu 10 tahun BJ ke depan yaitu Equator yang dipersembahkan oleh Fakultas Geologi UPN Yogyakarta, Bolbrutu, dan Via-via Kafe Kembara juga disajikan di Taman Budaya Yogyakarta. Penggiat mural dan grafiti juga turut ambil bagian, yaitu PLUS03, POF OBAG, HERE, SAVE, LUPS, BOTAK, MUCK feat TRASH, N-SIDE 193, TUYULOVME, VAYNTHREE feat OAK, FSK, NICK 23, OBY-MNC, dan OYS.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/kota-itu-milik-siapa-kita-mengisinya-kita-memilikinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Statmen Juri</title>
		<link>http://biennalejogja.org/statmen-juri/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/statmen-juri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[event biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Program Parallel Events Biennale Jogja XI 2011 menerapkan tujuh kriteria: 1) Kegiatan berbasis kolektif; 2) Adanya partisipasi seniman senirupa dalam kegiatan, jika yang membuat dari kalangan non-senirupa. Kegiatan harus dilaksanakan secara berkelompok; 3) Adanya partisipasi non-senirupa, jika yang membuat dari kalangan senirupa. Kegiatan harus dilakukan secara berkelompok; 4) Adanya keterkaitan kegiatan pada tema Biennale Jogja XI 2011, Religiositas dan Keberagaman, Isu-isu seputar Khatulistiwa, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Program Parallel Events Biennale Jogja XI 2011 menerapkan tujuh kriteria: 1) Kegiatan berbasis kolektif; 2) Adanya partisipasi seniman senirupa dalam kegiatan, jika yang membuat dari kalangan non-senirupa. Kegiatan harus dilaksanakan secara berkelompok; 3) Adanya partisipasi non-senirupa, jika yang membuat dari kalangan senirupa. Kegiatan harus dilakukan secara berkelompok; 4) Adanya keterkaitan kegiatan pada tema Biennale Jogja XI 2011, Religiositas dan Keberagaman, Isu-isu seputar Khatulistiwa, serta Isu-isu seputar hubungan Indonesia dan India; 5) Adanya tingkat kesesuaian antara proposal kegiatan dengan pelaksanaannya; 6) Adanya praktik lintas disiplin ilmu dalam konsep, perancangan, dan pelaksanaan kegiatan; 7) Aspek artistik.</p>
<p>Dengan menggunakan ketujuh kriteria tersebut, kesepuluh peserta Parallel Events Biennale Jogja XI 2011 memenuhi semua persyaratan tersebut. Oleh karena itu Tim Juri memberi apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua peserta Parallel Events Biennale Jogja XI tahun 2011 ini atas semangat dan kontribusinya.</p>
<p>Namun demikian, setelah melihat lebih jauh tujuan dari kegiatan Biennale Jogja XI 2011 ini, maka Tim Juri menilai lebih kepada peserta yang memiliki kemampuan melintasi batas-batas spasial (sosial dan kultural); dan berhasil menunjukkan kesenyawaan kolaborasi yang maksimal (antara seniman dan non-seniman).</p>
<p>Kami, Dewan Juri Parallel Events Biennale Jogja XI 2011, memutuskan memberikan penghargaan kepada tiga peserta tanpa ranking, sebagai peserta dengan Perancangan Program Terbaik. Ketiga peserta tersebut adalah: Ace House Collective, Kandang Jaran, dan KUNCI Cultural Studies Center. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Yogyakarta, 3 Januari 2012,</p>
<p>Anggota Juari PE BJ XI 2011<br />
PM Laksono<br />
Nindityo Adipurnomo<br />
Halim HD<br />
Muhammad ‘Ucup’ Yusuf<br />
Amalinda Savirani</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/statmen-juri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Ada Rotan Akar Punjabi</title>
		<link>http://biennalejogja.org/tak-ada-rotan-akar-punjabi/</link>
		<comments>http://biennalejogja.org/tak-ada-rotan-akar-punjabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 04:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[event biennale]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://biennalejogja.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pameran : 17-27 Desember 2011 Cafe BALE, Jl. Kaliurang Km. 5,5, Pandega Karya no.290, Yogyakarta Diinisiasi dan diorganisasi oleh Sebuah pembacaan subversif atas budaya populer India di Indonesia. Kegandrungan masyarakat Indonesia dengan musik dangdut, fanatisme dengan potongan rambut mullet, kolaborasi gerakan senam aerobik dengan musik pop India, atau kesamaan kuliner Indonesia dengan India adalah beberapa temuan yang didapat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pameran :<br />
17-27 Desember 2011<br />
Cafe BALE, Jl. Kaliurang Km. 5,5, Pandega Karya no.290, Yogyakarta</p>
<p>Diinisiasi dan diorganisasi oleh<br />
Sebuah pembacaan subversif atas budaya populer India di Indonesia. Kegandrungan masyarakat Indonesia dengan musik dangdut, fanatisme dengan potongan rambut mullet, kolaborasi gerakan senam aerobik dengan musik pop India, atau kesamaan kuliner Indonesia dengan India adalah beberapa temuan yang didapat pada riset awal proyek ini. Dari hasil riset dan kolaborasi tersebut, Ace House Collective menyuguhkannya dalam bentuk eksplorasi visual yang terangkum dalam sebuah proyek pameran lintas disiplin.<br />
Judul kegiatan Ace House Collective merujuk pada peribahasa Indonesia “Tak ada rotan akar pun jadi”, yang diplesetkan menjadi “Punjabi”. Punjabi adalah keluarga pengusaha keturunan India yang dikenal luas sebagai produser sinema elektronik/sinetron di berbagai stasiun televisi swasta dan film layar lebar di Indonesia.</p>
<p>Ace House Collective adalah laboratorium seni yang terbentuk dari gabungan beberapa seniman muda era 2000an, atas dasar kesamaan pemikiran dan ide dalam berkarya serta latar belakang pola berkesenian yang sama. Konsisten pada gaya visual popular dan konsumerisme visual yang berkembang seiring pengaruh budaya anak muda. Seperti musik, poster, kartun, film, toys, skateboard, bike culture, grafitty, dan komik. Kami meyakini budaya populer sebagai resistensi dan sumber utama dalam berkarya. Dan merupakan respon terhadap perkembangan arus informasi dalam wacana seni rupa global, dimana kami lahir dan hidup di dalamnya. Fenomena ini yang meyakini kami, bahwa kesenian tidak sebatas berkarya dalam ruang studio saja, namun juga persilangannya dalam disiplin ilmu lain.</p>
<p>Perjumpaan budaya populer India di Indonesia dimulai pada awal revolusi kemerdekaan Indonesia. Nasionalisme yang dibangun Soekarno kala itu melarang masuknya budaya barat (baca: Amerika) termasuk film dan musik. Melalui media film, semangat nasionalisme<br />
itu dibangun. Kegembiraan masyarakat Indonesia yang tenggelam dalam suasana gegap gempita kemerdekaan membuat film hasil karya anak bangsa ini semakin<br />
menarik hati. Namun, histeria ini tidak berlangsung lama. Keadaan ekonomi dan politik yang memburuk, menghapus gambaran mimpi kemakmuran atas negara yang sedang berkembang kala itu: termasuk kekecewaan masyarakat pada kualitas perfilman Indonesia yang seolah jalan di tempat. Dalam kondisi terpuruk, eskapisme atas kekecewaan tersebut dipresentasikan atas pemilihan pada film-film produksi ‘luar negeri’, seperti Malaysia, atau Filipina hingga kedatangan film India, tepatnya pada tahun 1952. Dilanjutkan dengan berjayanya film-film buatan Hongkong (China) di bioskopbioskop kota besar Indonesia. Sejarah mencatat, inilah awal perebutan kekuasaan dalam pasar perfilman Indonesia.</p>
<p>Cikal bakal ini yang mengakrabkan telinga kita dengan kata ‘Bollywood’, sebutan untuk film India populer yang  berbasis di Mumbay (dulu Bombay) dengan bahasa Hindi-nya. Bollywood yang merupakan gabungan dari kata Bombay dan Hollywood, adalah produsen film terbesar di India sekaligus di dunia. Istilah Bollywood sendiri lahir pada medio 1970an, ketika produksi film India mengambil alih kedudukan Amerika. Namun pada hakikatnya, di India sendiri, terdapat beberapa sentra produksi film. Seperti misalnya film berbahasa Tamil dengan basis di Kodambakkam, yang lebih dikenal dengan ‘Kollywood’, atau film berbahasa Telugu yang sempat mencatat sejarah sebagai sentra produksi film tertua di India yang berbasis di Hyderabad, ‘Tollywood’.</p>
<p>Melalui perkembangan media massa, kebudayaan  kontemporer India ini ternyata juga turut menyumbang perkembangan budaya populer di Indonesia. Alur cerita yang dipenuhi drama dan heroisme aktor laga yang  diselipi tarian dan nyanyian, membentuk karakteristik khas film India yang lekat di masyarakat Indonesia. Lahirlah idiom yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari seperti ‘tangisan bombay’ atau ‘inspektur vijay’. Sedangkan pada wilayah musik, percampurannya dengan musik Melayu menjadi fetus musik dangdut yang lebih dikenal sebagai musik Indonesia.</p>
<p>Berawal dari film beserta soundtrack-nya inilah, perjumpaan kami dengan temuan produk budaya populer India di Indonesia kami awali. Tidak hanya ditemukan dalam ranah film dan musik saja, tapi juga persebarannya di bidang lain yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang kemudian dipresentasikan pada identifikasi subjek-subjek yang terangkum dalam presentasi kali ini. Pada pembacaan selanjutnya, fenomena atas praktik konsumsi ini melahirkan bentuk perubahan budaya dan pemaknaan baru atas identitas masyarakat Indonesia, terutama akan posisi diri mereka dalam tata kehidupan masyarakat kontemporer, di sinilah konsep hibridisasi beroperasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://biennalejogja.org/tak-ada-rotan-akar-punjabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
