PAMERAN UTAMA

Roots < > Routes

Sejak konsep biennale equator diperkenalkan pada tahun 2011, Biennale Jogja berusaha untuk meneguhkan posisi dirinya sebagai salah satu perhelatan penting di medan seni rupa dunia yang selama ini memusat pada negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Pada setiap perhelatannya, Biennale Jogja kemudian melibatkan seniman dari negara dan kawasan sepanjang garis khatulistiwa, mulai dari India, negara-negara Arab, Nigeria, Brazil, hingga negara-negara di Asia Tenggara. Dari berbagai lokasi di dunia, para seniman tersebut diterbangkan untuk menampilkan karya sehingga dapat ditonton oleh segelintir penikmat seni di Jogja. Apa yang dilakukan oleh Biennale Jogja ini tak ubahnya seperti logika pagelaran seni rupa internasional lainnya, bahwa melalui kekuatan finansial mampu memobilisasi seniman dari mana saja untuk meraih perhatian dari seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa perjalanan merengkuh khatulistiwa—yang pada awalnya dimaksudkan sebagai sebuah aksi membangun solidaritas ekosistem seni di negara berkembang—justru hanya menjadikan Biennale Jogja sebagai bentuk pemusatan baru.

SENIMAN PARTISIPAN

A Pond is the Reverse of an Island (Jakarta/Majalengka/Yogyakarta)
Antoine Pecquet (New Caledonia/Nouméa)
Arief Budiman, Harun Rumbarar & Max Binur (Indonesia-Yogyakarta/Jayapura/Sorong)
Badan Kajian Pertanahan (Indonesia-Majalengka)
Broken Pitch x Juanga Culture (Yogyakarta/Maluku Utara)
Dapur Umum 56 (Yogyakarta)
Dyah Retno (Indonesia-Yogyakarta)
Edith Amituanai (Samoa/Auckland)
Ersal Umammit (Indonesia-Ambon)
Eunike Nugroho (Indonesia-Yogyakarta)
Greg Semu (Samoa/New Zealand-Sydney)
Hayden Fowler (New Zealand-Sydney/Berlin)
Ika Arista (Indonesia-Sumenep)
Indonesia Art Movement (Jayapura)
Jumaadi (Indonesia-Sydney)
Kurniadi Widodo (Indonesia-Yogyakarta)
Lakoat.Kujawas (South Central Timor)
Maria Madeira (Timor Leste-Perth)
Mella Jaarsma & Agus Ongge (Netherland-Yogyakarta/Indonesia-Sentani)
Meta Enjelita (Indonesia-Yogyakarta)
Motoyuki Shitamichi (Japan-Naoshima)
Nicolas Molé (New Caledonia-Nouméa)
Raden Kukuh Hermadi (Indonesia-Gunungkidul)
Radio Isolasido (Yogyakarta)
Riar Rizaldi (Indonesia-Hong Kong)
Salima Hakim (Indonesia-Tangerang)
Shivanjani Lal (Fiji/Australia-London)
Simão Cardoso Pereira (Timor Leste-Dili)
Sriwati Masmundari (Indonesia-Gresik)
Tim Riset Ruang Y.B. Mangunwijaya (Indonesia-Yogyakarta)
Tohjaya Tono (Indonesia-Bangkalan)
Udeido Collective (Jayapura)
Vembri Waluyas (Indonesia-Jayapura)
Yudai Kamisato (Japan-Tokyo)

BLOG

#CeritaResidensi: Mencari Sumber, Apa yang Terjadi di Papua?

Arief Budiman adalah seorang seniman yang banyak berkarya melalui gambar bergerak sebagai salah satu media utamanya. Ia aktif di beberapa komunitas, seperti MES 56 dan […]

#CeritaResidensi: Mencari Jejak Gerabah di Kupang

Dyah Retno merupakan salah satu seniman yang terlibat dalam pameran utama Biennale Jogja XIV Equator #6 2021. Sebagai seorang seniman keramik, ia banyak berkarya melalui […]

#CeritaResidensi: Pengetahuan Lokal untuk Ketahanan Pangan

Mama Fun memiliki nama asli Marlinda Nau, Fun diambil dari nama anaknya. Ia adalah salah satu anggota dari Lakoat.Kujawas dan memiliki fokus pada pengembangan pangan […]

#CeritaResidensi: Perjalanan Wisisi Asep Nayak

Asep Nayak lahir di Wamena pada 11 Januari 1999. Ia merupakan seorang mahasiswa broadcasting dan fotografi. Sehari-hari, sepulang dari kampus, Asep sering melanjutkan kegiatannya dengan […]

Sambal Luat dan Geliat Semangat Pangan Petani Kota

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2021, telah berlangsung acara bertajuk Pasar Tiban #1 Purbayan pada Minggu (17/10). Acara yang diselenggarakan oleh Kelompok Tani Kota […]

Waktu Terhenti oleh Wisisi

Tergagap-gagap dalam mengikuti langkah penyusunan musik elektronik, dia menghampiri saya. Sembari menuntun jemari saya memijit tombol yang benar, dia bilang, “Kita tunggu yang belum bisa. […]

PAMERAN ARSIP

GAME OF THE ARCHIVE

SATU DEKADE BIENNALE JOGJA KHATULISTIWA

Pameran Arsip Khatulistiwa mencoba menghubungan narasi-narasi yang semula tampak terputus dalam penyelenggaraan Biennale Jogja Seri Khatulistiwa sehingga dapat dilihat sebagai moda yang lebih berkesinambungan. Memamerkan arsip ini juga berarti menampilkan kisah pascaperistiwa yang biasanya tidak muncul ketika pameran tersebut berlangsung, sehingga audiens dapat memahami bagaimana pemikiran tetap dirawat setelah pameran usai. Beberapa arsip yang hadir kembali dalam rangkaian pameran arsip ini akan mengalami modifikasi yang terajut dalam dua kata kunci ‘alih wahana’ dan ‘ruang bermain’.

PROGRAM LABUHAN

Jayapura, Maumere, Kupang, Ambon

Program Labuhan menghadirkan serangkaian program terhubung di empat kota dan diproduksi bersama institusi atau kolektif seni di wilayah masing-masing. Penghubungnya adalah tema besar Biennale Jogja XVI Equator #6 yang secara umum membicarakan kebudayaan maritim dan berbagai narasi sosial budaya yang mempertautkan antara Indonesia bagian timur dengan wilayah Oseania. Penyelenggaraan program ini sekaligus menjadi usaha untuk melakukan desentralisasi pada format Biennale Jogja yang selama ini terpusat di Yogyakarta.

BILIK NEGARA

BILIK KOREA - KONNECT ASEAN

Pameran Bilik Korea-Konnect ASEAN dirancang sebagai sebuah ruang untuk mempertemukan seniman ASEAN dan Korea Selatan dalam merespons gagasan tentang sejarah dan pergerakan sosial, yang merupakan salah satu bingkai pemikiran mendasar bagi Biennale Jogja seri khatulistiwa. Melalui pertemuan para kurator, maka keduanya melihat urgensi untuk mempertemukan seniman perempuan dari kedua kawasan dan saling belajar dari sejarah dan pengalaman perempuan dalam konteks kebudayaan yang berbeda. Bagaimana konteks budaya, bentang alam, kepercayaan dan modernitas mempengaruhi kehidupan perempuan? Bagaimana pergeseran sosial, politik, ekonomi dan situasi pasca-kolonial dan perang membawa dampak besar bagi perubahan peran perempuan dalam kehidupan publik? Bagaimana perempuan menghadapi situasi baru berkait ekologi, kolonialisme, teknologi dan lain sebagainya?

BILIK TAIWAN - PAN-AUSTRONESIAN

“Pan-Austronesian” merupakan manifestasi dari perspektif dan kemungkinan yang lebih luas dari perhatian Museum Seni Rupa Kaohsiung pada budaya asli, berangkat dari fokus pada budaya Austronesia dan juga menantang masyarakat untuk menjadi lebih fleksibel dalam menafsirkan dunia dari perspektif lain. Yang kami pedulikan adalah bagaimana ide-ide kontemporer dapat berbaur dan bersinggungan dengan ingatan, kepercayaan, dan tradisi tanah setempat, termasuk penggunaan laut sebagai metafora untuk menciptakan hubungan dan mendorong komunikasi. Mengambil perspektif selatan yang mencerminkan linearitas dan sentralisasi, kami berusaha membangun paradigma baru yang tidak lagi didominasi oleh konsumsi modern dan peradaban industri.

PROGRAM PUBLIK

Load More