Pameran Arsip

Taman Budaya Yogyakarta
6 Oktober – 14 November 2021, 10:00 – 17:00 WIB

GAME OF THE ARCHIVE

SATU DEKADE BIENNALE JOGJA KHATULISTIWA

Setelah memulai Biennale Jogja seri Khatulistiwa pada 2011, maka tahun 2021 penyelenggaraannya telah menginjak 10 tahun, satu dekade. Sebuah rentang waktu panjang yang memberi banyak pelajaran pada beragam pertemuan dan perjalanan yang mengantar Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) pada enam edisi Biennale, mulai dari India, kawasan Arab, Nigeria, Brazil, Asia Tenggara dan Oseania. Melalui pembacaan dan penafsiran perjumpaan-perjumpaan tersebut, para peneliti yang diundang mencoba melihat bagaimana negara-negara khatulistiwa mempunyai sejarah dan kebudayaan spesifik yang menjadi bagian dari keragaman budaya dunia. Selain itu, YBY juga menjalin kerja sama dengan negara-negara mitra yang dilalui oleh garis khatulistiwa, membawa penyelidikan dan percakapan yang berkembang ke dalam berbagai aspek kehidupan dan konteks sosial politik: mulai bentang alam, iklim, atau perkembangan demokrasi.

Pameran Arsip Khatulistiwa mencoba menghubungan narasi-narasi yang semula tampak terputus dalam penyelenggaraan Biennale Jogja Seri Khatulistiwa sehingga dapat dilihat sebagai moda yang lebih berkesinambungan. Memamerkan arsip ini juga berarti menampilkan kisah pascaperistiwa yang biasanya tidak muncul ketika pameran tersebut berlangsung, sehingga audiens dapat memahami bagaimana pemikiran tetap dirawat setelah pameran usai. Beberapa arsip yang hadir kembali dalam rangkaian pameran arsip ini akan mengalami modifikasi yang terajut dalam dua kata kunci ‘alih wahana’ dan ‘ruang bermain’.

Selain menampilkan arsip dan dokumen yang direka secara visual, pameran ini juga menekankan pada metode spekulatif untuk membaca sejarah, di mana ada kaitan langsung antara masa lalu dan masa depan. Para pengelola program mengundang beberapa seniman dengan beragam latar belakang untuk menciptakan karya yang berkait dengan spektrum yang luas dari tema pameran, mulai dari pembacaan atas peta, atas teks-teks pidato, imajinasi tentang batas dan migrasi, atau sebuah dunia rekaan dalam khazanah maya. Melalui gagasan ruang bermain, kami melihat pameran ini sebagai platform untuk yang menunjukkan mimikri dan simulasi dari kontestasi kekuasaan dalam dunia masa kini, antara yang utara dan selatan, yang lokal dan yang global, tradisi dan modern, dalam suasana kegembiraan dan perayaan hidup, yang juga menjadi ciri dari vibrasi masyarakat selatan.

PENGARAH ARTISTIK & PROGRAM PUBLIK

Komunitas Sakatoya
Komunitas Sakatoya adalah kolektif seni yang bergerak di wilayah manajemen produksi kesenian dan produksi karya teater. Semenjak 2018 karya-karya teater Sakatoya berfokus pada isu ekologi dengan berpijak pada dramaturgi keterlibatan penonton. Karya teater yang sudah dipentaskan antara lain: Octagon Syndrome (2018, Hibah Seni PKKH UGM), Karnaval Terakhir (2018 / 2019), Cosmicpollutant (2018, Pesta Boneka #6 / 2019, ARTJOG MMXIX), Egg of Damselflies (2020, PUPA Puppet Lab), The Happy Family (2018, FKY #30 / 2019; FTRN, ISI Yogyakarta / 2021, Helateater, Komunitas Salihara). Karya lainnya ialah MEMINDAI (Instalasi interaktif) & Pura-Pura Radio #1 yang ditampilkan pada Pameran Asana Bina Seni: “Your Connection Was Interrupted”, Yayasan Biennale Yogyakarta (2020). Di tahun 2021, Sakatoya juga melakukan kolaborasi virtual bersama kelompok teater dari Inggris, Zoo Co dengan tajuk Care Krisis, yang merupakan salah satu project terpilih program Connecting through Culture Grant 20/21 British Council. Di wilayah manajerial, Sakatoya mengelola 2 program, yakni Partnership Program dan In-house Program. Melalui kedua program tersebut, Sakatoya aktif melakukan kerja-kerja keproduksian bersama seniman/kelompok dari bidang seni apapun, baik lokal maupun internasional.

KURATOR KONTEN & DRAMATURGI PAMERAN

Alia Swastika
Alia Swastika adalah kurator sekaligus penulis dan peneliti seni. Ia merupakan Direktur Program Ark Galerie pada 2008 – 2018. Saat ini bekerja sebagai Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta. Pada 2011 Alia menjadi kurator Biennale Jogja XI bersama Suman Gopinath (India) lalu 2012 menjadi salah satu dari Co-Curators Gwangju Biennale di Korea Selatan. Pada 2017, terpilih sebagai kurator pada pameran seni kontemporer Indonesia pada perhelatan Europalia Arts Festival dan mengorganisir pameran di 4 museum di Belgia dan Belanda. Pada 2019, menjadi salah satu konsultan kurator untuk pameran Contemporary Worlds: Indonesia, di National Gallery of Australia, Canberra. Dalam Biennale Jogja 2021, Alia Swastika bekerja untuk beberapa program penyerta seperti Pameran Arsip Equator dan Bilik Negara.

PENELITI

Karen Hardini
Lahir di Kebumen, 15 Desember 1996. Menyelesaikan studi S-1 pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2019. Saat ini tengah menempuh studi  S-2 di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan Dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada, dan studi S-2 Pendidikan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif menulis esai jurnalisme seni rupa, jurnal-jurnal akademik berbasis seni, tradisi dan pendidikan seni anak, dan menjadi pengajar seni rupa anak-anak. Terlibat aktif dalam kepengurusan Komunitas Cat Air Indonesia Chapter Jogja. Saat ini tengah merampungkan buku teks pelajaran untuk guru dari KEMENDIKBUD Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Gladhys Elliona
Gladhys Elliona (lahir 1994) adalah penulis, peneliti, dan aktor. Saat ini sedang menempuh studi di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada.

Duls Rumbawa
Dalam praktik keseniannya aktif berpartisipasi dalam wilayah penulisan dan kuratorial seni rupa. Baik secara individu maupun kolelektif bersama kantin kurasi.

Arlingga Hari Nugroho
Besar dan tumbuh di Bali. Tertarik dengan seni dan kepenulisan. Kini sedang mengelola media alternatif bernama Sudut Kantin Project.

Ripase Nostanta Br. Purba
Akrab dipanggil Ripa. Lahir pada 17 Agustus 1994, Lulusan Pengkajian Seni Lukis, Pascasarjana ISI Yogyakarta angkatan 2020, seorang guru, penggiat seni, penulis, MC dan beberapa kali terlibat dalam acara pameran kampus.

SENIMAN PARTISIPAN

Riyan Kresnandi
Riyan Kresnandi lahir di Sleman, pada 16 Juli 1991. Berawal dari perkenalannya dengan visual melalui kancah musik lokal di Yogyakarta, kemudian memantapkan langkahnya untuk mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual di bangku kuliah. Saat ini, Riyan adalah staf pengajar aktif di Kelas Seni Eko Nugroho dan juga masih aktif sebagai desainer lepas. Perjumpaan 3 scene (Adegan Musik Lokal, Industri Desain Visual, dan Seni Rupa) inilah yang membuat Riyan tidak memberikan batasan media pada setiap karyanya, mulai dari merchandise, foto, video, dan belakangan ini cenderung memilih seni media baru. sebagai media. Baru-baru ini ia berpartisipasi dalam pameran yang diselenggarakan oleh Biennale Jogja untuk seniman muda, “Your Connection is Interrupted” di Taman Budaya Yogyakarta (November 2020), dan pameran virtual lainnya seperti “Quantum Land MAG 20”, pameran virtual seni media baru yang diselenggarakan oleh Media Art Global pada 2020.

Mivubi Team
Mivubi Team adalah tim yang lahir sebagai hasil kolaborasi Tim mIneversa dan Komunitas UniBuild yang dibentuk untuk menjadi partisipan dalam proyek museum virtual. Visinya adalah memperkenalkan game minecraft dan aktivitas komunitasnya kepada masyarakat dan penggiat seni di Indonesia. Tim Mineversa adalah komunitas berbasis game minecraft yang dibentuk pada 2017 untuk memperkenalkan minecraft dan aktivitas komunitasnya di Indonesia. Tim Mineversa juga menjadi tim manajemen dari Komunitas Minecraft Indonesia (MinecraftId) dan Uni Build Indonesia. UniBuildd Indonesia Community adalah komunitas minecraft yang dibentuk pada 2017 berfokus pada ketrampilan minecraft builder.

<xhabarabot>
<xhabarabot> adalah kepribadian digital yang diciptakan oleh Rully Shabara pada tahun 2021 untuk menyelidiki dan menjalankan misi khusus, yakni membayangkan bentuk habitat baru yang belakangan ini sepertinya semakin berevolusi menjadi dimensi realitas baru di masa depan, yaitu dunia digital. <xhabarabot> bukanlah alterego atau avatar anonim, ia adalah kepribadian yang perlu diasuh, diajarkan, dipelajari, sehingga dapat tumbuh menjadi lebih besar dari kepribadian itu sendiri. Seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat, ia pun semestinya akan terus berkembang menjadi -jika diasuh dengan benar- sesuatu yang tidak hanya mencerminkan bagaimana manusia masa depan melihat diri mereka sendiri tetapi juga hal-hal apa yang harus dipikirkan atau didefinisikan ulang oleh manusia di masa depan.

Syahrizal Pahlevi
Syahrizal Pahlevi lahir pada 14 Oktober 1965, di Palembang, Sumatera Selatan. Pahlevi berkuliah di Fakultas Sastra di Universitas Idonesia pada tahun 1984-1985. Kemudian pada tahun 1985-1986, Pahlevi melanjutkan pendidikannya di Jurusan Desain Visual di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Pada tahun 1986-1994, Pahlevi meneruskan pendidikannya di Jurusan Seni Lukis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Pahlevi juga mengikuti beberapa residensi, antara lain: di Nagasawa Art Park (NAP) di Awaji City, Hyogo, Jepang (2009); “Artist in Residence” di Vermont Studio Center, Amerika (2011); “Short Residence” di Rumah Seni Embun, Medan (2012). Finalist of Philip Morris Indonesian Art Awards (1995,1996,1997); Finalist of Indonesia Print Triennale (2003,2006, 2009); “Winner of 17th Freeman Asian Artist Fellowships” di Amerika (2010); “Top 40 Indonesian Art Awards” di Jakarta (2013). Karya yang dihasilkan Pahlevi antara lain berupa lukisan, digital printing, instalasi, dan art-performance. Semenjak 2013, Pahlevi mengelola Miracle Art Print dan International Biennale of Mini Print di I Yogyakarta, Indonesia sebagai ruang pengembangan wacana seni grafis.

Awanda Brima Destia
Awanda Brima Destia lahir di Yogyakarta 9 Desember 1992. Menyelesaikan pendidikan Ilmu Komunikasi pada tahun 2015 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Terlibat dengan komunitas SURVIVE!Garage dalam menginisiasi pameran maupun diskusi serta program lainnya. Wanda sebenarnya lebih berfokus pada dunia crafting, salah satunya membuat sabun. Pada perkembangannya saya kemudian menggunakan media sulam untuk membuat karya yang juga bertema “Mari Mengobrol dengan Tubuhmu”.