KURATORIAL

Alia Swastika

Selama bekerja dalam dunia seni, saya telah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Korea Selatan. Barangkali, dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, Korea Selatan seperti menjadi rumah kedua saya, di mana relasi saya dengan seniman, kurator, penulis dan pelaku seni lainnya di negara tersebut jauh lebih intens dan berlanjut dalam kerja-kerja jangka panjang. Yang menarik, sebagian besar dari kolega kerja saya di Korea adalah perempuan; mereka yang berada di level atas institusi seni, hingga pekerja independen macam saya. Meskipun saya melihat bagaimana perempuan memainkan peranan besar dalam perubahan dan perkembangan ekosistem seni di Korea Selatan, pada kenyataannya, saya melihat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, budaya patriarkhi masih sangat kuat dalam masyarakat Korea. Saya bisa dengan segera mengenalinya karena pengalaman yang sama—bekerja dalam lingkup seni dalam sebuah ruang yang sangat patriarkhis—merupakan bagian dari kenyataan keseharian saya di Indonesia. Jika memperluas perbandingan ini, saya kira kita bisa menyebut bahwa sebagian besar pekerja seni perempuan di Asia pun masih mengalami hal ini.

Tentu saja, dinamika gerakan dan pemikiran perempuan di berbagai wilayah di kawasan Global Selatan menunjukkan progresivitas yang kuat dengan munculnya peluang dan perlawanan atas represi, kekerasan dan diskriminasi, tetapi juga kita melihat bagaimana perempuan menjadi bagian dari garis depan ketahanan masyarakat atas situasi-situasi darurat seperti pandemi, bencana alam, bahkan situasi ketegangan akibat kekacauan politik. Solidaritas perempuan telah menjadi bagian dari upaya komunitas dan masyarakat untuk berdiri pada sikap yang jelas untuk menolak berbagai proses industrialisasi dan ekstraksi alam, mempertahankan bumi sebagai sumber kehidupan dan gagasan tentang hidup yang berkelanjutan.

Hacking Domesticity ingin menegaskan konteks dan arah politis dari gerakan-gerakan perempuan yang dimulai dari lingkup kecil tersebut, memperluas pandangan kita tentang ruang domestik yang awalnya terasa sempit dan berbatas, menjadi bagian dari cakrawala dunia yang kompleks dan saling terhubung. Dunia domestik didefinisikan ulang dengan melihat “rumah” dalam posisinya yang dinamis dan penuh ketegangan—antara yang di dalam dan yang di luar, antara personal dan sosial, antara gender binary dan non-binary, antara yang tampak dan tak tampak. Domestisitas adalah sebuah konstruk alih-alih sebuah ruang, di mana pemahaman atas ruang fisik itu sendiri diciptakan melalui serangkaian sistem sosial—termasuk sistem nilai berbasis gender.

Sebagai bagian dari perlawanan terhadap konstruksi yang mapan atas domestisitas dan domestifikasi, Hacking Domesticity memetakan isu-isu di mana pertentangan antara beragam opisisi biner dipertanyakan ulang. Para seniman dalam pameran ini menunjukkan negosiasi yang terus menerus dalam praktik kehidupan sehari-hari, menabrak batasan atas gagasan domestisitas—rumah, lokalitas, ruang personal—sebagai wahana bagi partisipasi mereka dalam ranah-ranah publik yang luas. Bersama-sama, para seniman Asia Tenggara dan Korea Selatan menjadi bagian dari proses membaca kembali sejarah dan pergeseran makna identitas “keperempuanan” di tengah dinamika sejarah dan percepatan ruang global dan segala kompleksitasnya. Dengan berfokus pada sejarah dan peran perempuan yang krusial di dalamnya, pameran ini membentang beragam pemikiran, gerakan, produksi pengetahuan dan tantangan perubahan zaman bagi para perempuan antar generasi. Secara khusus, beberapa karya dalam pameran ini juga merujuk pada bagaimana teknologi menjadi ruang di mana perempuan dapat berdaya dan membentuk kembali identitasnya, meretas kepatuhan sosial yang normatif dalam realitas fisik, atau bahkan merekonstruksi realitas itu sebagai taktik dan strategi bertahan. Karena itu, Hacking Domesticity secara tak langsung dapat dirujuk pula pada upaya meretas dominasi teknologi atas manusia menjadi sebuah ruang di mana perempuan bersama-sama merebut kesetaraan.

Dalam konteks Asia Tenggara, peran publik perempuan merupakan bagian dari kenyataan keseharian yang menunjukkan bagaimana perempuan memegang posisi kunci dalam berbagai aspek kehidupan: pangan, penjagaan keseimbangan lingkungan, pendidikan dan pembelajaran nilai dan pengetahuan lokal. Pada masyarakat tradisional, gagasan tentang peran ini merupakan sesuatu yang diwariskan secara turun temurun, membentuk sistem nilai dan menjadi bentuk filsafat. Pada masyarakat modern, pembagian peran diteguhkan melalui berbagai institusi dan pranata, sehingga lebih punya tekanan sosial. Para seniman menunjukkan bagaimana perempuan menghadapi sistem dan pranata itu dengan strategi dan taktik, bersiasat atas batasan dan tantangan, dan secara pelahan mereka membentuk dan menuliskan sejarahnya sendiri.

Memaknai dan menuliskan ulang sejarah dari perspektif yang lebih berpijak dari kenyataan keseharian dan berpihak pada korban merupakan bagian dari jejak karya Ampannee Satoh (Thailand) dan Agnes Christina (Indonesia). Kedua seniman ini lahir dari sebuah generasi yang menyaksikan dan menjadi bagian dari pergeseran peristiwa politik yang signifikan, dan terutama berada dalam lingkup mereka yang kalah dan dipinggirkan. Ampannee Satoh, seniman yang berasal dari Pattani, Narathiwat, sebuah wilayah di Thailand Selatan, yang secara budaya sebenarnya lebih dekat dengan budaya Melayu, dengan masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Masuknya Pattani, Yala dan Narathiwat menjadi wilayah Thailand telah memunculkan konflik berkelanjutan, terutama karena propaganda tentang gerakan separatisme di tiga provinsi tersebut. Lebih dari 5,000 terbunuh semenjak 2004 dan selama masa perlawanan menentang kekerasan rezim Militer Thailand yang masih terus bergolak hingga kini.

Karya seri foto Muslimah ini merupakan catatan Ampannee dalam memunculkan para perempuan pejuang yang berada dalam pusaran konflik politik, kehilangan anggota keluarganya dan hidup dalam bayang-bayang trauma kekerasan. Dengan memotret mereka dalam latar hidup keseharian, Ampannee memunculkan gambaran yang jujur dari pergulatan menghadapi sejarah dan hidup yang terus berjalan, serta menepis anggapan yang terkonstruksi oleh sistem politik tentang cara mereka berpakaian. Dalam seri karya ini, Ampannee menantang dialog subversif antara audiens dengan citraan dan stereotipe tentang perempuan yang memakai hijab dan burqa, dan memosisikan perempuan dalam posisi yang sentral dalam sejarah sosial di Patanni.

Agnes Christina telah mengulik perihal identitas, sejarah dan kekerasan ini melalui berbagai metode yang diartikulasikan dalam bahasa visual yang menunjukkan kekhasan generasinya sendiri. Kelindan simbol-simbol budaya populer, kosakata keseharian dan narasi-narasi minor yang sering terabaikan merupakan bagian dari strateginya untuk membuat sejarah kelam ini tidak melulu berujung pada trauma dan putus asa, tetapi selalu ada celah untuk harapan dan langkah masa depan. Agnes memfokuskan karyanya pada kritisisme atas stereotip-stereotip yang memperkuat kategorisasi masyarakat keturunan Cina, terutama berkait dengan beberapa peristiwa di mana kelompok etnis ini menjadi korban—pembunuhan akhir tahun 1940an, peristiwa 1965, serta reformasi 1998. Bagaimana generasi keturunan Cina masa kini mengambil posisi “politis”-nya dalam kehidupan sehari-hari?

Melalui teks drama, sulaman tangan dan gambar dalam neonbox, Agnes memadatkan problem identitas dan ketegangan sosial atasnya menjadi beberapa fragmen peristiwa berbasis ingatan dan fenomena keseharian. Dengan latar belakangnya yang kuat pada teater, teks drama menjadi sebuah objek visual baru yang berbasis pada ide dan narasi, untuk ditransformasi menjadi suara.

Etza Meisyara (Bandung) dan Fitri DK (Yogyakarta) menampilkan karya yang berangkat dari amatan mereka terhadap posisi perempuan dalam siklus kehidupan dan lingkungan, terutama berkait dengan penghargaan terhadap kehidupan yang lain di luar manusia, sebuah cara baru melihat definisi antroposen. Datang dari latar belakang sebagai aktivis seni, Fitri terlibat dalam beragam gerakan petani, buruh atau kelompok terpinggir perkotaan, dan mendedikasikan karyanya untuk membawa isu-isu ini dalam percakapan yang lebih luas. Salah satu keterlibatan Fitri adalah advokasi bersama Petani Kendeng, di mana para Ibu menjadi bagian dari garis depan perlawanan untuk menyelamatkan lahan pertanian mereka dari mesin-mesin industrialisasi dengan rencana pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut. Selama bertahun-tahun, warga Kendeng yang dikenal dengan filosofinya “Sedulur Sikep”, sebuah laku hidup yang sangat mempercayai keseimbangan semesta, menolak pembangunan tersebut dengan berbagai cara yang inspiratif dan imajinatif. Keseluruhan gagasan dan laku yang mereka tampilkan untuk melawan rezim ini seringkali sekuat performance konseptual yang sering muncul di ruang galeri, tetapi dilakukan langsung di depan situs-situs penting kekuasaan: istana presiden, gedung Dewan Perwakilan Rakyat, dan sebagainya. Di situ mereka melakukan doa, duduk menyemen kaki selama berhari-hari, dan aksi-aksi simbolis lainnya.

Tiga karya cukil kayu yang ditampilkan Fitri DK muncul sebagai mantra, yang terinspirasi dari seluruh filosofi hidup masyarakat Kendeng. Para perempuan tampil dalam gambar-gambar ini sebagai penjaga alam, sesuatu yang kemudian banyak melandasi lahirnya pemikiran ekofeminisme.

Sementara Etza Meisyara justru memunculkan bingkai resistensi ini dari sudut pandang dan latar belakangnya yang berbeda. Besar dan tumbuh dalam lingkungan perkotaan, membuat relasi Etza dengan alam dan tradisi terbentuk dengan cara yang berbeda dari mereka yang hidup dalam lingkungan desa yang tradisional. Belakangan, setelah beberapa tahun berkesempatan melakukan beberapa perjalanan ke masyarakat modern di Eropa, Etza melihat bagaimana perbedaan sistem pengetahuan modern  (atau Barat) dan pengalaman produksi pengetahuan lokal. Di Bandung, Etza kemudian merefleksikan kembali amatannya terhadap kehidupan pertanian tradisional Sunda, dan melihat kosmologi alam yang sangat mempengaruhi ritual dan kebudayaan masyarakat petani, terutama dalam hal peran perempuan dalam siklus hidup tersebut. Ketertarikannya pada media baru dan teknologi produksi bunyi kemudian membawanya pada penjelajahan untuk menautkan narasi dengan medium, mengulik ikon dan objek tradisi dalam konteks masa kini.

Baik Fitri dan Etza tertarik melihat lesung sebagai penanda relasi perempuan, pangan dan alam, meski keduanya kemudian memperluas cakupannya ke dua wilayah yang berbeda. Bagi Etza, bunyi gejok lesung yang khas di masa perayaan panen adalah bagian dari perayaan atas hidup, sementara musik yang dialunkan untuk menandai kebersamaan petani dalam membangun sinergi dengan alam. Etza mentransformasikan bunyi ini dalam sebuah partitur sebagai elemen visual dan menunjukkan transformasi dari konteks menjadi teks, dari tradisional menjadi modern, dari ingatan menjadi dokumen. Dalam videonya, ia sendiri mencoba membaurkan tubuhnya dengan ritual tani dan merekam bebunyian itu justru untuk menggarisbawahi jarak dirinya dengan semesta tersebut, mendekatkan yang asing menjadi lebih akrab, memasuki ruang baru di mana bunyi dan ikon selalu punya makna filosofis yang menjadi kepercayaan bersama.

Seniman Kamboja Sao Sreymao telah mengumpulkan kisah-kisah menarik tentang pengalaman perempuan berada dalam sebuah ruang kota yang megah; Phnom Penh yang berubah cepat menjadi bagian dari megapolitan Asia dengan gedung-gedung pencakar langit yang mulai bertebaran di penjuru kota. Tapi, bagaimana kah sebuah ruang memberi rasa aman untuk mereka yang berdiam di sana? Bagaimana perempuan melangkahkan kakinya memasuki tempat-tempat publik tanpa kehilangan otoritas atas tubuhnya, atau merasa gagap dalam labirinnya yang gelap? Sao mencatat pengalaman fisik perempuan dalam memaknai kota dan kompleksitas industrialisasinya, serta bagaimana sistem ini tidak membebaskan mereka dari kungkungan budaya patriarkhi. Para perempuan harus berjuang berkali lebih keras untuk dapat meraih mimpi mereka, atau melepaskan begitu saja mimpi atas nama nilai tradisi dan keluarga.

Sao Sreymao menelusuri bagaimana perempuan diposisikan dalam sejarah perkembangan Kamboja sebagai sebuah bangsa; masa ketika perempuan dalam tradisi lama hanya diposisikan dalam ranah domestik untuk memasak dan menjaga anak, kemudian ketika perempuan Kamboja harus menghadapi kekerasan dan serangan seksual selama masa Khmer, kemudian masa pasca-Khmer di mana para perempuan mulai menjalani kehidupan baru, menjadi bagian dari masyarakat global dan industri pariwisata yang pesat sehingga muncul praktik jasa seks komersial, atau pekerja rendahan di kota. Pada fase masa ini, dalam pandangan, Sreymao, perempuan generasinya telah banyak mendobrak tabu-tabu dan konstruksi sosial untuk mewujudkan masyarakat yang lebih setara dalam konteks gender.

Kim Jong Eun

Chang Jia dan Siren Eun-young Jung, karya kedua seniman ini selalu ditafsirkan melalui beberapa lapisan. Namun untuk pameran “Hacking Domesticity” Biennale Yogyakarta tahun ini, saya ingin memulai dengan berbagi perjuangan seniman perempuan di bawah sejarah, politik dan kondisi sosial. Karya-karya kedua seniman tersebut di atas lebih banyak mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan pengalaman mereka sebagai seniman perempuan. Kemunculan seniman perempuan dalam karyanya, otonom atau tidak, merupakan produk zaman tersebut; dibentuk oleh sejarah dan pengalaman Asia modern dan kontemporer dan pada saat yang sama, memainkan peran yang beragam dalam mengeksplorasi kondisi era tersebut. Oleh karena itu, karya-karya ini memberikan peluang estetis dan politis untuk mengkaji persoalan, ketika berhadapan dengan subjek seni rupa kontemporer, secara tiga dimensi.

Hal ini dapat diamati lebih lanjut dengan memeriksa karya-karya kedua seniman tersebut secara lebih rinci. Siren Eun Young Jung berurusan dengan Yeoseong Gukgeuk atau teater wanita Korea dalam karyanya “Act of Effect” dan “Deferral Theater“. Yeoseong Gukgeuk adalah pertunjukan teater yang diperankan oleh pemeran perempuan, dengan aktor wanita yang juga memainkan peran pria. Pertunjukan ini dinikmati oleh beragam penonton, tetapi sebagian besar masih diisi oleh wanita. Perusahaan teater khusus wanita tidak hanya dapat ditemukan di Korea, tetapi juga hadir di Jepang dan sebagian besar sejarah Asia modern. Hal ini juga dapat dilihat sebagai respon terhadap pertunjukan tradisional di seluruh Asia, di mana laki-laki biasanya akan berdandan dan memainkan peran perempuan. Di Korea, Yeoseong Gukgeuk lahir ketika proses penghapusan kolonialisme dan pembentukan negara modern, menjadi sukses besar sepanjang perang. Namun, segera setelah itu, kediktatoran militan sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an menerapkan kebijakan pemberlakuan budaya tradisional, dengan sengaja menghapuskan Yeoseong Gukgeuk sebagai warisan budaya tradisional, sehingga terjadi penurunan tajam. Dengan kata lain, kehidupan para penampil Yeoseong Gukgeuk dan perjalanan berat seni itu sendiri berakar pada latar belakang kompleks modernisasi kelas menengah dari Barat dan masyarakat tradisional patriarki. Dengan demikian, Yeoseong Gukgeuk dengan jelas menyoroti seluk-beluk artis wanita Asia di era modern. Dengan meningkatnya popularitas dan perkembangan Yeoseong Gukgeuk, langkah-langkah yang dilalui para seniman semakin mengungkapkan definisi tegas dikotomi gender modern dan penindasannya di tangan patriarki tradisional.

Yang terpenting, bagaimanapun, Siren Eun Young Jung menggunakan penampilan artistik artis wanita muda saat ini, sebagai pewaris terakhir Yeoseong Gukgeuk dan sebagai aktris yang menampilkan peran pria, sebagai cara untuk memunculkan wacana dan kenangan seputar sejarah menarik Yeoseong Gukgeuk.  “Act of Affect” terdiri dari video dan pertunjukan saluran tunggal. Cerita dibuka dengan monolog yang mengungkapkan penderitaan dan konflik tentang seni dan realitas seseorang. Proses menampilkan maskulinitas sebagai seorang aktris dan menjadi seorang pria di atas panggung dicapai melalui latihan terus-menerus dan berakhir ketika ia berdiri di atas panggung. Penonton, setelah menyaksikan proses ‘pembentukan’ ini dapat lebih berempati dengan perubahan kasih sayang ini, dan pada akhirnya mengalami pendalaman di mana batas-batas antara aktor dan peran menghilang.

Breaking Instruments III Breaking Wheel” oleh Chang Jia adalah karya seni video yang menunjukkan 12 perempuan menaiki alat penyiksaan sadel beroda, dikayuh seperti sepeda beroda satu sambil bernyanyi dan melakukan puji-pujian. Roda yang patah adalah simbol yang mewakili ketakutan selama Abad Pertengahan, karena pembalikan brutal penggunaan benda sehari-hari seperti roda, sebagai alat penyiksaan yang dapat memotong dan melukai tubuh. Seniman membuat instrumen ini dengan roda gerbong dan tank modern. Alat ini mungkin dianggap sebagai alat siksaan, tetapi rodanya sebenarnya dilengkapi dengan bulu burung di bagian paling atas, yang menyentuh aurat wanita saat roda dikayuh. Untuk menggerakkan roda yang berat, wanita menyanyikan lagu-lagu dan puji-pujian untuk memberi energi pada diri mereka sendiri dan satu sama lain selama mereka bekerja dan mengayuh. Lagu-lagu buruh adalah lagu-lagu tradisional mengenang Kembali Dinasti Joseon yang berasal dari Chungcheong-do, Korea, dibuat berdasarkan skala Frisian, yang dilarang oleh gereja-gereja pada Abad Pertengahan sebagai cara untuk menekan kesenangan. Alat siksaan dan hubungannya dengan tubuh perempuan mewakili fakta bahwa perempuan adalah subjek rasa sakit dan kenikmatan seksual melalui persalinan. Prosesnya terungkap dengan gerakan elegan yang disesuaikan dengan musik yang terbuat dari pawai dan nyanyian yang indah.

Di antara rangkaian alat penyiksaan Chang Jia, “Beautiful Instruments II”, 2012 tampak menonjol, terdiri dari sebuah gambar alat dan teks yang menjelaskan fungsi alat tersebut. Alat tersebut sebenarnya adalah alat bedah yang digunakan pada abad ke-19. Seniman itu membayangkan kembali perangkat penyiksaan yang kejam sebagai instrumen medis, sesuatu yang seharusnya paling jauh dari rasa sakit. Alat penyiksaan palsu yang masuk akal ini menempatkan batas-batas indera dalam posisi yang berlawanan dan membongkar berbagai impuls dan makna. “Physical Requirements for Becoming an Artist “2nd-Enjoy Yourself in Every Condition 2000, merupakan karya awal yang mengangkat wacana tentang perempuan, tubuh, dan institusi seperti karya-karya terbarunya tentang serangkaian alat penyiksaan. Karya tersebut mengekspos sang seniman pada situasi kekerasan dan berbahaya saat ia sendiri menampilkan karya tersebut melalui instalasi video. Pokok bahasan dari karya tersebut adalah efek benturan akibat merespon situasi sadis di berbagai titik, seperti manusia, seniman, perempuan di institusi, dan perempuan yang tinggal di negara dunia ketiga. Meski diarahkan, namun kekerasan fisik terhadap tubuh seniman itu nyata, sehingga ada kerancuan antara apa itu pertunjukan dan apa kenyataan dalam karya ini. Upaya seniman untuk tetap tersenyum menghadapi kekerasan fisik yang semakin intens mencerminkan bagaimana kekerasan terjadi dalam institusi dan sistem struktural.

Bagi Chang Jia, tubuh menjadi aktor yang menyimpang, tempat acara, dan media untuk bercerita. Kenikmatan dan ketidaknyamanan tubuh, yang jelas dibedakan satu sama lain, direkonstruksi sekaligus menembus tubuh seniman perempuan. Metode ini menciptakan situasi yang mengejutkan dan ekstrem, tetapi karya diselesaikan dengan tampilan dan nuansa klasik dan elegan. Seniman mengguncang batas antara indra dan kebijaksanaan konvensional dengan bahasa formatifnya sendiri, mengungkapkan rasa atas permasalahan secara berlimpah dan jelas.

Perasaan dan pengalaman yang dialami sebagai seniman perempuan dalam karya Siren Eun Young Jung dan Chang Jia terhubung dengan tubuh, sejarah, masyarakat, dan posisi politik, dan pada saat yang sama menghancurkan norma dan persepsi sosial yang kokoh. Kedua seniman itu menggoyahkan batas-batas kontradiksi dalam dikotomi atau peran gender yang keras kepala melalui metodologi artistik. Hal ini memperluas interpretasi dan keraguan kita tentang bidang dan peran yang kita anggap pasti tentang perempuan. Karya mereka direduksi menjadi konsep terbatas ‘perempuan’ dan ‘peran perempuan’, mengungkapkan dan membuktikan bahwa batas wilayah yang terpisah selalu tidak stabil dan bervariasi. Karya mereka mengacu pada kelangsungan hidup seniman perempuan yang telah mengalami penindasan ganda dan memiliki telah terkekang sepanjang sejarah Asia modern dan kontemporer, dan dengan jelas menjelaskan alasan keberadaan mereka dalam bahasa seni. Menjadi seniman bagi perempuan adalah masalah nilai universal untuk kebebasan dan kelangsungan hidup di tengah penindasan dan kekerasan, dan itu dimulai dengan mengungkapkan keberadaannya.

Terlepas dari kondisi sulit yang kami hadapi selama pandemi COVID-19, pameran ini disiapkan melalui berbagi berbagai diskusi dan kuliah seni dengan perempuan di seluruh Asia. Sangat mengesankan melihat artis dan desainer perempuan di seluruh Asia berbicara setelah membaca makalah tentang film Korea berjudul “The Maid“. Realitas pada masyarakat Korea juga mendorong kembali rasa sakit pekerja perempuan asing dan imigran pernikahan demi isu-isu globalisasi lain yang tertunda. Bahkan pada saat ini, modal, teknologi, norma sosial dan adat istiadat sangat meremehkan dan mengurangi peran dan pencapaian perempuan. Sebagai seorang wanita Asia, pameran “Hacking Domesticity” merupakan kesempatan untuk mengeksplorasi pengalaman dan kenangan tentang Asia modern dan kontemporer, secara substansial menghadapi kekerasan, dan meretasnya bersama-sama. Melalui pameran ini, kami menciptakan tempat untuk terhubung dan mengecek satu sama lain. Pengalaman yang kami bagikan sebagai wanita Asia dan nilai-nilai yang dikejar oleh seni, secara inheren terkait dengan isu-isu seperti hak asasi manusia dan ekologi, yang memungkinkan kami membayangkan masa depan koeksistensi yang lebih luas.